Category: Cerbung


Oleh : Irza Setiawan

Bumi Seakan Hancur

Bayangan putih mengitari pandanganku, badanku terasa ringan, aku seakan melayang-layang diantara sinaran cahaya-cahaya yang mengitari tubuhku, aku berada dimana, kupandangi sekelilingku, tidak ada orang, hanya aku sendirian disini.

“ Andre…”

Aku mendengar suara lembut seorang perempuan memanggil namaku, tapi siapa, darimana asal suara itu.

View full article »

Oleh : Irza Setiawan

Jawaban Anisa

Pagi ini, aku berencana pergi menemui Anisa di kampusnya, biasanya di kampusnya diadakan pengajian, setelah shalat dhuha, aku pergi dengan motorku, menyusuri jalan-jalan, untuk mengetahui, bagaimana jawaban Anisa atas pinanganku kemarin.

Sudah lama aku tidak mengitari kota Amuntai, aku sempat melewati Sekolah Menengah Atasku dulu, begitu juga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertamaku di kota ini, Kebetulan kedua sekolahku itu bersebelahan, hanya saja Sekolah Dasarku terletak di kampung halamanku, desa Tangga Ulin. View full article »

Oleh : Irza Setiawan

Matahari mulai menyinari bumi, cuaca yang tadinya hujan berubah menjadi panas, waktu berangkat kuliah, aku menggigil kedinginan, sekarang begitu pulang kuliah, aku malah kepanasan, Allah memang mempunyai bermacam-macam rencana.

Aku terus melangkah pulang, tiba-tiba saja Adzan Zuhur mulai terdengar, kupercepat langkahku menuju masjid, sesampainya di masjid, aku langsung mengambil air wudhu, begitu air wudhu mengaliri tubuhku, rasanya segar sekali, rasanya aku menemukan semangat baru.

View full article »

Cobaan Cinta

Oleh : Irza Setiawan

Cahaya bulan menerangi malam, suara angin berderu-deru di luar sana, sedikit demi sedikit, air hujan mulai membasahi bumi, aku gelisah di dalam kamar, aku benar-benar ditimpa kebingungan yang luar biasa, apa yang sebenarnya menimpa diriku, sudah dua hari yang lalu, Anisa kembali pulang ke Kalimantan, namun, sejak pertemuan dengannya waktu itu, aku selalu memikirkannya, wajahnya yang putih bercahaya selalu menghiasi pandanganku, tatap matanya yang indah semakin membuat hatiku terpesona, beginikah rasanya siksaan cinta. View full article »

Oleh   : Irza Setiawan

Kehadiran Anisa

Jam Bekerku berbunyi, sudah jam setengah empat, meskipun hanya terlelap satu jam setengah, itu sudah cukup untuk meremajakan seluruh syaraf tubuhku, karena anggota tubuh juga mepunyai hak untuk beristirahat, setelah shalat tahajud, aku dan teman-temanku membaca Al-Quran bersama, sambil menanti azan subuh berkumandang, teman-teman sangat melestarikan kegiatan rutin pagi seperti ini, mekipun aku melihat mata Ujang terpejam-pejam menahan kantuk. View full article »

Oleh    : Irza Setiawan

Restoran Mewah

“ Andre, bangun Dre! Ada orang mencarimu. “

Suara Nai yang membangunkanku dari bibit-bibit mimpi yang indah segera menyadarkanku, cuma satu jam aku tidur, meregangkan otot-otot syaraf setelah kuliah, dan lembur mengerjakan makalah.

“ Siapa sih? “ Tanyaku sambil mengeliat sambil mengucek-ngucek mata.

Gak tau? Katanya ada perlu sama kamu, penting banget.”

Dengan mengusir rasa malas, aku segera melangkah ke ruang tamu, di sana kulihat seorang bapak berjaket biru sedang duduk sambil menikmati teh hangat buatan Nai, setelah kuamati, ternyata pak Mahmud, beliau tersenyum kepadaku.

“ Eh pak Mahmud, tumben datang kesini, apa kabar? “ Kataku sambil menjabat tangan beliau.

Alhamdulillah, kabar bapak baik-baik saja, maaf Dre, bapak mengganggu tidurmu. “

“ Ah…, gak papa kok, malah saya senang bapak sudi berkunjung ke tempat kami yang sangat sederhana ini. “

“ Meskipun sederhana, tapi cukup bersih rapi dan nyaman, eh masih ingat ama si Aisha? “

“ Aisha! Gadis bercadar yang kecelakaan empat hari yang lalu, tentu saja saya masih ingat, bagaimana keadaannya sekarang? “

“ Dia sudah pulang ke rumah, keadaannya sudah mulai pulih kembali, meskipun belum pulih sepenuhnya. “

“ Oh.., Alhamdulillah, mudah-mudahan saja dia cepat sembuh. “

“ Amin…,Dre, kedatangan bapak kemari adalah untuk memperkenalkanmu kepada keluarga Aisha, kita bisa kesana sekarang. “

“ Kemana pak? “

“ Ke rumah Aisha, bisa gak? “

“ Bisa, sebentar ya saya mandi dulu. “

Kemudian aku mandi, kebetulan kos lagi kosong, Nai entah pergi kemana, tu anak memang ajaib banget, sebentar ada, sebentar menghilang, kulihat jam di dinding kamarku, sudah hampir pukul 3, biasanya Ujang pulang siaran jam 3, segera kuambil handphone-ku, kemudian aku mengirim SMS.

“ Jang, kunci kos kutitipin sama bundanya Clara, kebetulan kos lagi kosong “

Ujang membalas.

“ Ok, makasih atas informasinya. “

Lalu aku berangkat bersama pak Mahmud dengan menggunakan mobil taxi beliau, dan akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang sangat mewah, halaman rumahnya sangat luas, aku sempat berpikir, ini rumah atau istana, rumah kok sangat besar sekali. Setelah itu aku masuk dengan terlebih dahulu mengucapkan salam, yang ada di dalam serentak menjawab salam, disana sudah banyak sekali orang berkumpul, termasuk Aisha, Aisha terlihat sangat anggun dan cantik dengan jilbab dan cadar birunya, matanya yang lentik bergerak-gerak menatapku, kelihatannya kondisi kesehatannya sudah mulai pulih kembali.

“ Diakah pemuda itu? “ Seorang lelaki setengah baya yang duduk di samping Aisha berkata sambil memandangku.

“ Benar, dialah orangnya. “ Pak Mahmud menjawab.

Aku yang merasa menjadi obyek pembicaraan menjadi bingung, lalu aku mulai bertanya.

“ Kalian membicarakan saya? “

“ Iya nak Andre, seperti yang saya bilang di kos kamu tadi, ada orang yang punya keperluan denganmu, ceritanya begini, bapak ini adalah pak Ali, beliau adalah ayah dari Aisha, beliau ingin berterima kasih denganmu karena telah menyelamatkan Aisha, putri tunggalnya. “ Pak Mahmud menjelaskan.

“ Benar nak Andre, saya sangat berterima kasih kepadamu karena telah menyelamatkan Aisha, seperti yang pak Mahmud jelaskan tadi, Aisha adalah puteri saya satu-satunya, Aisha sangat berharga bagi saya, sebagai rasa terima kasih, saya ingin memberikan sesuatu kepadamu, nilainya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan keselamatan puteri saya. “

View full article »

Oleh   : Irza Setiawan

Akhwat Bercadar Putih

Matahari mulai menggerogoti kulitku, keringat demi keringat berceceran jatuh ke bumi, rasanya topi yang bertengger di kepalaku tidak cukup untuk menahan ganasnya sinar matahari, udara hawa panas membuat tubuhku semakin gerah, kuusap wajahku dengan sapu tangan, hitam, penuh dengan debu, padatnya asap kendaraan semakin memperkeruh suasana, seandainya aku tidak ingat dengan tanggung jawabku sebagai seorang mahasiswa yang mencari ilmu, seandainya tidak ingat bahwa diriku dilepas orang tua dengan linangan air mata, tentu lebih enak berada di rumah, merebahkan diri di kasur yang empuk sambil menyalakan kipas angin yang sejuk, lalu terbuai dengan belaian lembut mimpi-mimpi yang indah, oh…alangkah indahnya.

View full article »

Oleh    : Irza Setiawan

Gadis Itu Bernama Anisa

Bintang-bintang mulai kelam di tengah lipatan langit malam, cahayanya masih membiaskan berbagai warna yang dapat menyejukkan kalbu, kokok ayam mulai bersahut-sahutan memecah kesunyian gelapnya malam, baginda Rasulullah Shallallahu’ Alaihi Sallam bersabda, “ Apabila kamu mendengar kokok ayam, maka berdoalah kepada Allah dari kemurahan-Nya, karena sesungguhnya ayam tersebut baru saja melihat seorang malaikat.”1 Semoga saja hari ini bakalan lebih baik dari hari kemarin. Terdengar deru angin bergulung-gulung diluar sana, membuatku semakin bersemangat untuk membuka mata, setelah seharian menjelajahi alam mimpi yang indah, dunia maya yang penuh makna.

View full article »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.